Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Saham Disuspensi BEI: Untung atau Buntung buat Investor?

Awal 2026 jadi periode yang cukup “panas” di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah saham—terutama small caps —mengalami lonjakan harga ekstrem, disusul langkah tegas BEI berupa suspensi sementara perdagangan . Salah satu yang paling disorot adalah saham BAIK dan GRPM , yang perdagangannya dihentikan mulai sesi I, 26 Januari 2026 . Bagi investor ritel, terutama pemula, situasi seperti ini sering memicu pertanyaan besar: apakah suspensi itu kabar buruk, atau justru perlindungan? BAIK & GRPM: Apa yang Sebenarnya Terjadi? BEI menghentikan sementara perdagangan saham BAIK (PT Bersama Mencapai Puncak Tbk) karena harganya melonjak sekitar 145% secara kumulatif dalam waktu singkat . Kenaikan ini dinilai tidak sebanding dengan informasi fundamental yang tersedia ke publik. Sementara itu, GRPM sebelumnya juga sempat disuspensi. Namun setelah memenuhi kewajiban keterbukaan informasi, saham ini dibuka kembali , dengan catatan dipindahkan ke Papan FCA (Full Call Auction) —mekanisme perdaganga...

Samsung Galaxy S26 Series: Harga Ditahan, AI Makin Cerdas, Siap Hadapi iPhone 17?

Di saat harga smartphone flagship makin “ngeri” dan krisis chip global belum sepenuhnya reda, Samsung justru mengambil langkah yang agak melawan arus . Galaxy S26 series yang diperkirakan meluncur Februari 2026 disebut-sebut bakal menahan harga di level Galaxy S25, sambil membawa fitur AI baru yang relevan dengan masalah sehari-hari: penipuan digital . Bukan cuma soal kamera 200MP atau skor benchmark, Samsung tampaknya ingin menjual rasa aman dan nilai jangka panjang . Pertanyaannya: seberapa menarik Galaxy S26 di tengah gempuran iPhone 17 dan flagship Android lain? Rilis Februari 2026, Harga Masih “Masuk Akal”? Berdasarkan berbagai bocoran, Samsung Galaxy S26 series diperkirakan rilis global pada 25 Februari 2026 , dengan pre-order dimulai Maret. Pola ini konsisten dengan generasi S-series sebelumnya. Yang bikin ramai: harga tidak melonjak drastis , meskipun industri teknologi sedang menghadapi krisis memori global akibat lonjakan permintaan AI server. Perkiraan harga global dan In...

Longsor Cisarua Bandung Barat: Ketika Hujan, Urbanisasi Lereng, dan Kesiapsiagaan Bertemu Tragedi

Bencana longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada 24 Januari 2026 menjadi salah satu tragedi kemanusiaan paling memilukan di awal tahun ini. Hingga 26 Januari 2026 , proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung, sementara angka korban terus bergerak. Di balik data dan statistik, longsor ini menyisakan satu pesan keras: bencana bukan hanya soal alam, tetapi juga soal pilihan manusia . Korban Terus Bertambah, Pencarian Berlangsung Tanpa Henti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga 26 Januari: 17 orang dinyatakan meninggal dunia 25 jenazah berhasil dievakuasi 11 korban telah teridentifikasi melalui proses DVI 65 orang masih dinyatakan hilang atau tertimbun Sekitar 400 warga mengungsi 30 rumah tertimbun material longsor Perbedaan antara jumlah korban meninggal dan jumlah jenazah yang dievakuasi terjadi karena sebagian korban ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Dalam situasi seperti ini, identifikasi membutuhkan waktu lebih lama karena harus melalui...

Kurzawa Datang, Persib Naik Level: Strategi Bojan Hodak dan Ambisi Asia Maung Bandung

Bursa transfer tengah musim Super League 2025/2026 jadi panggung gebrakan Persib Bandung. Di saat banyak klub bermain aman, Maung Bandung justru “menarik headline” dengan mendatangkan Layvin Kurzawa , eks bek Paris Saint-Germain, sebagai pemain asing termahal liga. Tak berhenti di situ, Persib juga mengamankan Dion Markx , bek muda Timnas Indonesia U-20, sebagai investasi jangka panjang. Langkah ini bukan sekadar soal nama besar. Ada pesan taktis, finansial, dan ambisi Asia yang jelas terbaca dari kebijakan transfer Bojan Hodak dan manajemen Persib. Dari PSG ke GBLA: Transfer yang Mengubah Peta Liga Layvin Kurzawa bukan rekrutan sembarangan. Bek kiri berusia 33 tahun ini menghabiskan hampir satu dekade bersama PSG, mencatat lebih dari 100 penampilan Ligue 1, serta merasakan atmosfer sepak bola level Liga Champions. Fakta bahwa Persib bisa memboyongnya—bahkan dengan status bebas transfer—membuat media Belanda dan Prancis ikut menyorot Super League Indonesia. Bagi Persib, Kurzawa adalah ...

Cuaca Ekstrem Belum Usai: Memahami Monsun Asia, La Niña, dan Risiko Nyata hingga Awal 2026

Hujan deras yang terasa “nggak ada jedanya” belakangan ini bukan sekadar perasaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa cuaca ekstrem di Indonesia masih berlanjut hingga akhir Januari 2026 , bahkan berpotensi memanjang ke bulan-bulan berikutnya. Pemicunya bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi Monsun Asia yang menguat, cold surge dari Asia, potensi siklon tropis di selatan Indonesia, serta La Niña lemah yang masih aktif. Kombinasi ini membuat hujan lebat mendominasi banyak wilayah, khususnya Jawa, Sumatera bagian selatan, hingga Nusa Tenggara. Situasi ini penting dipahami, bukan untuk menakuti, tapi agar masyarakat—terutama anak muda—lebih siap menghadapi risiko yang nyata di depan mata. Cuaca Ekstrem 101: Kenapa Hujan Sekarang Lebih “Serius”? 1. Apa itu Monsun Asia? Monsun Asia adalah sistem angin musiman yang membawa udara lembap dari Asia menuju Indonesia. Saat monsun ini menguat, suplai uap air meningkat drastis dan hujan pun jadi lebih int...

Longsor Cisarua: Ketika Alam, Tata Ruang, dan Tugas Kemanusiaan Bertemu Risiko

Bencana longsor kembali mengingatkan kita bahwa alam tak pernah benar-benar “netral”. Akhir pekan 24–25 Januari 2026, Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menjadi saksi tragedi yang bukan hanya merenggut nyawa warga, tetapi juga dua aparat negara yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan. Di tengah upaya evakuasi dan distribusi bantuan, Aiptu Hendra Kurniawan dan Aipda Muhammad Jerry Sonconery , anggota Polres Cimahi, gugur setelah tertabrak truk TNI yang membawa bantuan logistik ke lokasi bencana. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan potret kompleksnya risiko di zona bencana—tempat niat baik, keterbatasan sistem, dan kondisi alam saling beririsan. Gugur Saat Bertugas: Risiko yang Sering Tak Terlihat Kapolda Jawa Barat menyatakan kedua anggota Polri tersebut gugur dalam tugas dan mendapatkan kenaikan pangkat anumerta dari Kapolri. TNI melalui Pangdam III/Siliwangi juga menyampaikan duka cita mendalam, menyebut kejadian ini seb...

Vonis Laras Faizati: Ketika Unggahan Instagram Berujung Pidana

Pelajaran Penting soal Batas Kebebasan Bersuara di Era Digital Kasus Laras Faizati Khairunnisa menjadi salah satu perkara hukum digital yang paling banyak diperbincangkan awal 2026. Bukan karena hukuman penjara berat, melainkan karena cara negara merespons unggahan media sosial : akun Instagram dimusnahkan, iPhone dirampas negara, dan vonis dijatuhkan tanpa jeruji besi. Bagi generasi muda yang hidup di media sosial, kasus ini memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana kebebasan berekspresi dilindungi hukum, dan kapan ia berubah menjadi tindak pidana? Dari Unggahan Emosional ke Meja Hijau Laras ditangkap pada 1 September 2025 setelah mengunggah konten Instagram yang dinilai menghasut publik untuk membakar Mabes Polri. Unggahan itu muncul di tengah situasi sosial yang panas, pasca meninggalnya seorang driver ojek online, Affan Kurniawan, dalam demonstrasi Agustus 2025. Dalam konteks media sosial, unggahan Laras mungkin dibaca sebagian orang sebagai luapan emosi atau solidaritas. Namun bag...

Putusan Tarif Trump & Gejolak Kripto 2026: Siapa Diuntungkan, Siapa Siap Tumbang?

Pada 17 Januari 2026 , Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA AS) akan mengeluarkan putusan penting yang dampaknya bisa menjalar jauh ke luar negeri—bahkan sampai ke dompet investor kripto di Indonesia. Yang dipertaruhkan bukan hanya soal tarif impor era Trump , tapi juga likuiditas global, yield obligasi AS, dan stabilitas pasar kripto . Bitcoin memang masih bertahan di atas US$90.000 , tapi pasar jelas tidak tenang. Investor institusi wait-and-see, trader ritel deg-degan, dan narasi “kripto sebagai lindung nilai” kembali diuji oleh realitas makro. Kenapa Tarif Trump Bisa Mengguncang Kripto? Intinya sederhana tapi efeknya berlapis. Jika Mahkamah Agung menyatakan bahwa Trump tidak berwenang menggunakan IEEPA untuk menerapkan tarif impor luas, maka pemerintah AS harus mengembalikan dana tarif yang sudah dipungut—nilainya diperkirakan US$150–200 miliar . Pengembalian dana sebesar itu bukan uang receh. Dampaknya: Pendapatan federal AS turun Pemerintah harus menerbitkan obligasi baru Yield ...

Poco dan Fenomena HP Gaming Murah 2026: Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Terdesak?

Tahun 2026 jadi momen aneh tapi menarik di pasar smartphone Indonesia. Di saat harga RAM dan chip global makin mahal karena disedot industri AI, justru muncul paradoks: HP gaming makin kencang, tapi harganya relatif terjangkau . Di tengah kondisi ini, satu nama paling sering muncul di obrolan gamer: Poco . Seri seperti Poco X8 Pro Max, F7 Pro, dan F7 Ultra berhasil menciptakan narasi baru: performa flagship tak lagi eksklusif untuk HP belasan hingga dua puluh jutaan. Tapi di balik hype “flagship killer”, ada dinamika pasar, kompromi, dan dampak jangka panjang yang jarang dibahas. Kenapa Poco Bisa Dominan di Segmen Gaming Murah? Strategi Poco sebenarnya cukup sederhana tapi berisiko: jual performa setinggi mungkin, dengan harga seagresif mungkin. Di saat banyak brand menahan spesifikasi karena krisis chip dan RAM, Poco justru lompat ke chipset kelas atas seperti Snapdragon 8 Gen 3 dan MediaTek Dimensity 9500s , lalu memasukkannya ke rentang harga Rp6–10 jutaan. Fokusnya jelas: Perform...

Krisis RAM Global: Ketika AI Pintar, Perangkat Kita Makin Mahal

Kecerdasan buatan (AI) sering dipromosikan sebagai teknologi pembebas. Ia diklaim membuat kerja lebih cepat, bisnis lebih efisien, dan hidup manusia lebih mudah. Namun di balik narasi manis itu, ada ongkos besar yang jarang dibicarakan: krisis RAM global yang kini mulai terasa langsung di kantong konsumen Indonesia. Sejak akhir 2025, harga RAM melonjak drastis. Dampaknya bukan cuma pada industri teknologi kelas atas, tetapi merembet ke laptop mahasiswa, ponsel entry-level, hingga perangkat kerja UMKM. Ironisnya, krisis ini justru dipicu oleh teknologi yang disebut-sebut “gratis” dan “inklusif”: AI. Ledakan AI dan Awal Krisis RAM Masalah bermula dari ledakan penggunaan AI generatif. Model AI modern membutuhkan RAM berkapasitas besar dan super cepat untuk training dan inference di data center. Perusahaan teknologi global berlomba-lomba membangun server AI, menyedot pasokan chip memori dari pasar global. Produsen utama seperti Samsung dan SK Hynix akhirnya memprioritaskan pasokan RAM u...

Saham Multibagger 2026: Antara Mimpi Cuan Besar dan Risiko Nyata

Belajar dari Rekomendasi Yudo Achilles Sadewa Awal 2026 dibuka dengan satu kata yang selalu bikin investor ritel deg-degan: multibagger . Istilah ini kembali ramai setelah Yudo Achilles Sadewa —analis pasar sekaligus putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa—membagikan pandangannya soal saham-saham yang berpotensi “meledak” hingga kuartal II–III 2026. Nama-nama besar seperti grup Bakrie, Hapsoro , saham emas , hingga bank digital ikut masuk radar. Tapi di balik janji cuan berkali-kali lipat, selalu ada satu pertanyaan penting: apakah strategi ini cocok untuk semua orang? Artikel ini membedah rekomendasi tersebut secara naratif , lalu memisahkannya menjadi dua jalur pembaca: investor pemula dan trader agresif . Multibagger: Peluang atau Ilusi? Secara sederhana, saham multibagger adalah saham yang harganya bisa naik berkali-kali lipat dari harga awal. Biasanya, kenaikan ini dipicu oleh katalis besar , seperti: Masuk indeks global (misalnya MSCI ) Lonjakan harga komoditas (emas, pera...

Rumor Gaston Ávila ke Persib Bandung: Antara Euforia Bobotoh dan Realita Bursa Transfer Liga 1

Nama Gaston Ávila mendadak jadi perbincangan hangat di jagat sepak bola Indonesia awal 2026. Bek kiri asal Argentina milik Ajax Amsterdam itu ramai dikaitkan dengan Persib Bandung , memicu euforia Bobotoh dan spekulasi besar di media sosial. Namun, alih-alih mendarat di Bandung, Ávila justru memilih pulang kampung dan bergabung dengan Rosario Central . Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Persib benar-benar hampir merekrut pemain Ajax, atau ini hanya fenomena klasik bursa transfer Liga 1? Awal Mula Rumor: Dari Instagram ke Headline Media Rumor Gaston Ávila ke Persib bermula dari aktivitas media sosial sang pemain. Kolom komentar Instagram Ávila dibanjiri pesan Bobotoh, bersamaan dengan kabar bahwa Federico Barba berpotensi hengkang. Situasi ini langsung memantik narasi bahwa Persib tengah mencari bek kiri baru berprofil internasional. Beberapa media bahkan menulis judul bombastis—menyebut transfer Ávila sebagai “kado spesial” untuk Bobotoh jelang agenda Asia. Di titik ini, rumo...