Longsor Cisarua: Ketika Alam, Tata Ruang, dan Tugas Kemanusiaan Bertemu Risiko

Bencana longsor kembali mengingatkan kita bahwa alam tak pernah benar-benar “netral”. Akhir pekan 24–25 Januari 2026, Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menjadi saksi tragedi yang bukan hanya merenggut nyawa warga, tetapi juga dua aparat negara yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan.

Di tengah upaya evakuasi dan distribusi bantuan, Aiptu Hendra Kurniawan dan Aipda Muhammad Jerry Sonconery, anggota Polres Cimahi, gugur setelah tertabrak truk TNI yang membawa bantuan logistik ke lokasi bencana. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan potret kompleksnya risiko di zona bencana—tempat niat baik, keterbatasan sistem, dan kondisi alam saling beririsan.

Gugur Saat Bertugas: Risiko yang Sering Tak Terlihat

Kapolda Jawa Barat menyatakan kedua anggota Polri tersebut gugur dalam tugas dan mendapatkan kenaikan pangkat anumerta dari Kapolri. TNI melalui Pangdam III/Siliwangi juga menyampaikan duka cita mendalam, menyebut kejadian ini sebagai musibah tak terduga di tengah misi kemanusiaan.

Namun, di balik pernyataan resmi, ada satu fakta penting: zona bencana bukan hanya berbahaya bagi korban, tapi juga bagi para penolongnya. Medan yang labil, cuaca ekstrem, lalu lintas alat berat, dan koordinasi lintas instansi yang serba cepat membuat risiko kecelakaan meningkat drastis.

Kasus truk TNI–Polri ini menjadi alarm keras tentang pentingnya protokol keselamatan gabungan agar upaya penyelamatan tidak justru menambah daftar korban.

Longsor Bukan Sekadar Soal Hujan

Mudah menyalahkan hujan deras. Tapi pemerintah melihat masalah yang lebih dalam. Menteri Lingkungan Hidup menyoroti urbanisasi berlebih dan pola tata ruang yang buruk di kawasan lereng Bandung Barat sebagai faktor utama pemicu longsor.

Alih fungsi lahan, pembangunan di lereng curam, dan minimnya ruang resapan air membuat tanah kehilangan “pegangan”-nya. Saat hujan turun, longsor hanya tinggal menunggu waktu.

Di sisi lain, Badan Geologi juga memperingatkan potensi longsor susulan di wilayah Cisarua. Artinya, bencana tidak berhenti saat tanah runtuh pertama kali—ancaman bisa datang lagi, kapan saja.

Edukasi Kebencanaan: Kenapa Anak Muda Perlu Peduli?

Buat generasi muda, isu kebencanaan sering terasa jauh—sampai akhirnya terjadi di sekitar kita. Padahal, anak muda punya peran besar dalam mengubah pola lama.

Beberapa hal penting yang perlu dipahami:

  • Bencana itu bukan cuma alamiah, tapi juga hasil keputusan manusia: dari izin bangunan, gaya hidup, sampai kebijakan tata kota.

  • Tata ruang yang buruk hari ini = bencana di masa depan.

  • Petugas lapangan juga korban potensial, bukan sekadar “pahlawan yang kebal risiko”.

Kesadaran ini penting agar generasi muda tidak hanya reaktif saat bencana terjadi, tapi juga kritis terhadap pembangunan di wilayah rawan.

Lebih dari Evakuasi: Respons Bencana yang Manusiawi

Di Bandung Barat, Polri tak hanya fokus pada evakuasi, tetapi juga melakukan trauma healing, terutama bagi anak-anak korban longsor dan banjir bandang. Ini mengingatkan kita bahwa bencana meninggalkan luka yang tak selalu terlihat.

Respons bencana yang ideal seharusnya mencakup:

  • Penyelamatan dan evakuasi

  • Perlindungan keselamatan petugas

  • Pemulihan psikologis korban

  • Edukasi risiko lanjutan

  • Evaluasi dan perbaikan tata ruang

Tanpa itu, kita hanya akan mengulang siklus yang sama.

Cerita Gugurnya Polisi dan Tanggung Jawab Kita

Kisah dua polisi yang gugur di Cisarua bukan sekadar berita duka. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap bencana, ada nyawa yang dipertaruhkan—termasuk oleh mereka yang datang untuk menolong.

Cerita seperti ini bisa menjadi call to action: untuk berdonasi, mendukung kampanye keselamatan petugas, atau sekadar lebih vokal menuntut tata ruang yang adil dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, bencana bukan cuma soal alam yang murka, tapi juga tentang pilihan manusia dan keberanian untuk berubah.


Referensi

Komentar