Poco dan Fenomena HP Gaming Murah 2026: Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Terdesak?

Tahun 2026 jadi momen aneh tapi menarik di pasar smartphone Indonesia. Di saat harga RAM dan chip global makin mahal karena disedot industri AI, justru muncul paradoks: HP gaming makin kencang, tapi harganya relatif terjangkau. Di tengah kondisi ini, satu nama paling sering muncul di obrolan gamer: Poco.

Seri seperti Poco X8 Pro Max, F7 Pro, dan F7 Ultra berhasil menciptakan narasi baru: performa flagship tak lagi eksklusif untuk HP belasan hingga dua puluh jutaan. Tapi di balik hype “flagship killer”, ada dinamika pasar, kompromi, dan dampak jangka panjang yang jarang dibahas.


Kenapa Poco Bisa Dominan di Segmen Gaming Murah?

Strategi Poco sebenarnya cukup sederhana tapi berisiko:
jual performa setinggi mungkin, dengan harga seagresif mungkin.

Di saat banyak brand menahan spesifikasi karena krisis chip dan RAM, Poco justru lompat ke chipset kelas atas seperti Snapdragon 8 Gen 3 dan MediaTek Dimensity 9500s, lalu memasukkannya ke rentang harga Rp6–10 jutaan. Fokusnya jelas:

  • Performa mentah

  • Sistem pendingin (cooling)

  • Baterai jumbo

Hal-hal seperti build metal premium, kamera telephoto, atau software super bersih jadi prioritas kedua.

Bagi pasar Indonesia—yang mayoritas gamer mobile main berjam-jam, bukan sekadar benchmark—pendekatan ini terasa “kena banget”.


Performa Nyata: Bukan Cuma Skor AnTuTu

Di atas kertas, Poco X8 Pro Max dengan Dimensity 9500s (3nm) mencetak skor AnTuTu di kisaran 3 juta poin. Angka ini setara, bahkan melampaui banyak flagship mahal.

Namun yang lebih penting bukan skornya, melainkan stabilitas performa.
Chipset Dimensity 9500s dikenal lebih efisien daya dan suhu dibanding Snapdragon 8 Gen 3 (4nm). Artinya:

  • Main Genshin Impact atau Honkai berjam-jam

  • FPS lebih stabil

  • Risiko throttling lebih kecil

Sementara itu, F7 Pro dan F7 Ultra dengan Snapdragon tetap unggul di peak GPU dan optimasi game tertentu, tapi cenderung lebih panas saat sesi panjang.

Kesimpulannya: di dunia nyata, efisiensi sering lebih penting daripada performa puncak sesaat.


Baterai Jumbo: Senjata Rahasia Poco

Salah satu pembeda terbesar adalah baterai 9000mAh di Poco X8 Pro Max. Ini bukan sekadar gimmick angka besar.

Dalam pemakaian nyata:

  • Gaming berat: 10–12 jam nonstop

  • Pemakaian normal: 2–3 hari

  • Ditambah fitur bypass charging, main sambil colok jadi lebih aman buat umur baterai

Teknologi silikon-karbon memungkinkan kapasitas besar tanpa bobot berlebihan, sekaligus menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang.

Untuk gamer Indonesia yang sering main lama di kos, warnet, atau perjalanan jauh, ini jelas nilai jual besar.


Layar & Pengalaman Visual: Tidak Harus 2K

Poco X8 Pro Max memakai LTPS OLED 1.5K 144Hz, sementara F7 Pro menawarkan AMOLED 2K 120Hz. Secara teori, 2K terdengar lebih premium.

Namun LTPS punya keunggulan praktis:

  • Konsumsi daya 15–20% lebih hemat

  • Response time lebih cepat

  • Lebih tahan burn-in untuk UI statis

Untuk gaming dan pemakaian harian, perbedaannya nyaris tidak terasa, tapi dampaknya ke baterai sangat nyata.


Versi Pemula vs Gamer Agresif

🟢 Untuk Gamer Pemula & Kasual

Jika kamu:

  • Main ML, PUBG, Genshin sesekali

  • Butuh HP kencang untuk multitasking

  • Ingin baterai awet dan harga rasional

👉 Poco X8 Pro Max adalah pilihan paling masuk akal.
Performa overkill, tapi future-proof dan irit tenaga (dan dompet).

🔴 Untuk Gamer Agresif & Kompetitif

Jika kamu:

  • Main FPS atau game berat tiap hari

  • Mengejar FPS setinggi mungkin

  • Tidak masalah charge lebih sering

👉 Poco F7 Pro / F7 Ultra lebih cocok.
GPU mentah dan optimasi Snapdragon masih unggul untuk skenario ini.


Kompromi yang Harus Diterima

Tentu tidak ada produk sempurna. Beberapa catatan penting:

  • Build plastik lebih rentan gores

  • Kamera sekunder biasa saja, terutama low-light

  • HyperOS masih menyisakan bloatware & iklan

  • Update software tidak selama flagship premium

Namun di rentang harga ini, kompromi tersebut masih tergolong “masuk akal” bagi mayoritas pengguna.


Dampak Lebih Besar ke Pasar Smartphone

Fenomena Poco tidak berdiri sendiri. Di tengah krisis RAM global:

  • Brand entry-level makin tertekan karena margin tipis

  • HP murah sulit naik spek tanpa naik harga

  • Segmen “value flagship” justru makin ramai

Ironisnya, AI yang digadang-gadang “gratis dan membantu semua orang” justru ikut mendorong mahalnya hardware. Perusahaan besar untung, sementara konsumen harus lebih pintar memilih.


Kesimpulan: Poco Menang, Tapi Pasar Berubah

Poco di 2026 bukan sekadar brand HP murah. Ia adalah simbol perubahan arah pasar:

  • Value mengalahkan gengsi

  • Efisiensi mengalahkan kemewahan

  • Gamer kasual jadi pemenang terbesar

Namun di balik itu, tekanan ke brand kecil dan konsumen non-tech-savvy makin besar. HP kencang memang makin terjangkau, tapi pilihan “aman dan murah” makin sedikit.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “HP mana paling kencang?”,
melainkan “HP mana paling masuk akal buat kebutuhan kita?”


Referensi

  • 91mobiles Indonesia – Poco F7 Pro & F7 Ultra resmi masuk Indonesia

  • Gadget Viva – Dampak krisis chip global & kenaikan harga perangkat

  • Bloomberg Technoz – Proyeksi mahalnya PC & smartphone hingga 2026

  • Selular.id – Dampak RAM mahal ke pasar laptop & gadget Indonesia

  • Carisinyal – Review dan analisis Poco F7 Pro

  • Kabarakyat.web.id – Bocoran & spesifikasi Poco X8 Pro Max

  • Prabumulihpos Disway – Analisis layar & chipset Poco terbaru

  • Detik Inet – Update harga dan posisi Poco di pasar Indonesia

  • Suara.com – Bocoran harga & baterai Poco X8 Pro Max

  • YouTube & Instagram tech reviewer (uji baterai & performa real-life)

Komentar