Cuaca Ekstrem Belum Usai: Memahami Monsun Asia, La Niña, dan Risiko Nyata hingga Awal 2026

Hujan deras yang terasa “nggak ada jedanya” belakangan ini bukan sekadar perasaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa cuaca ekstrem di Indonesia masih berlanjut hingga akhir Januari 2026, bahkan berpotensi memanjang ke bulan-bulan berikutnya.

Pemicunya bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi Monsun Asia yang menguat, cold surge dari Asia, potensi siklon tropis di selatan Indonesia, serta La Niña lemah yang masih aktif. Kombinasi ini membuat hujan lebat mendominasi banyak wilayah, khususnya Jawa, Sumatera bagian selatan, hingga Nusa Tenggara.

Situasi ini penting dipahami, bukan untuk menakuti, tapi agar masyarakat—terutama anak muda—lebih siap menghadapi risiko yang nyata di depan mata.


Cuaca Ekstrem 101: Kenapa Hujan Sekarang Lebih “Serius”?

1. Apa itu Monsun Asia?

Monsun Asia adalah sistem angin musiman yang membawa udara lembap dari Asia menuju Indonesia. Saat monsun ini menguat, suplai uap air meningkat drastis dan hujan pun jadi lebih intens.

2. Apa peran Cold Surge (CENS)?

Cold surge adalah aliran udara dingin dari Siberia yang bergerak ke selatan, melewati Laut China Selatan dan Selat Karimata, bahkan menembus ekuator. Saat bertemu udara tropis Indonesia, efeknya seperti “menyiram bensin ke api”: awan hujan tumbuh lebih besar dan lebih luas.

3. Kenapa La Niña tetap berpengaruh meski disebut “lemah”?

La Niña lemah tetap meningkatkan kelembapan udara, terutama di Indonesia bagian timur. Artinya, hujan jadi lebih sering dan musim hujan cenderung lebih panjang.

4. Bagaimana peran siklon tropis di selatan Indonesia?

Sistem tekanan rendah seperti Siklon 91S dan 92P di selatan NTB hingga Teluk Carpentaria memang tidak masuk daratan, tapi efeknya terasa. Sistem ini memperkuat konvergensi angin dan memicu hujan luas dari Jawa, Bali, hingga Papua.

Singkatnya: bukan satu penyebab, tapi efek domino cuaca global dan regional.


Prakiraan Singkat: Wilayah Mana Paling Perlu Waspada?

BMKG memetakan risiko cuaca ekstrem pada periode 26–29 Januari 2026 sebagai berikut:

  • Jabodetabek
    Pagi–siang berawan tebal, sore hujan ringan–sedang (terutama Jakarta Selatan & Timur), malam berpotensi hujan disertai petir dan angin kencang.

  • Status Siaga (hujan lebat–sangat lebat)
    Banten, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB.

  • Status Waspada (hujan sedang–lebat)
    Aceh, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua.

Mayoritas kota besar tetap didominasi hujan ringan hingga berawan, tapi ini justru berbahaya karena tanah sudah jenuh air.


Risiko Nyata: Bukan Sekadar Basah-Basahan

Cuaca ekstrem membawa risiko lanjutan, terutama bencana hidrometeorologi:

  • Banjir dan longsor susulan, seperti yang berpotensi terjadi di Cisarua dan Bandung Barat

  • Gangguan transportasi akibat genangan di Jabodetabek

  • Banjir bandang di wilayah hulu dan lereng

  • Kerugian ekonomi, terutama UMKM dan sektor logistik

Yang sering luput disadari: hujan sedang pun bisa memicu bencana jika kondisi tanah sudah terlalu basah.


Mitigasi Praktis Berbasis Wilayah (Yang Bisa Langsung Dilakukan)

Jabodetabek & Kota Besar

  • Pantau info cuaca harian dari BMKG (InfoBMKG / call 196)

  • Hindari aktivitas luar ruang saat sore–malam

  • Siapkan jalur alternatif jika terjadi genangan

  • Amankan kendaraan dari area rawan banjir

Wilayah Lereng & Perbukitan (Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT)

  • Waspadai retakan tanah dan pohon miring

  • Hindari bermalam di dekat tebing atau aliran sungai kecil

  • Segera evakuasi jika hujan deras berlangsung lama

Kawasan Industri & UMKM (misalnya Cikarang)

  • Bersihkan saluran drainase secara rutin

  • Siapkan pompa air atau saluran darurat

  • Lindungi stok dan dokumen penting dari genangan

Wilayah Pesisir & Selatan Jawa

  • Kurangi perjalanan malam saat hujan lebat

  • Waspada angin kencang dan gelombang tinggi

  • Nelayan disarankan menunda melaut saat peringatan cuaca ekstrem


Anak Muda dan Adaptasi Cuaca: Kenapa Ini Penting?

Cuaca ekstrem bukan cuma isu cuaca, tapi juga:

  • Mobilitas kerja dan kuliah

  • Ekonomi digital dan UMKM

  • Pertanian dan ketahanan pangan

  • Perencanaan kota dan tata ruang

Ke depan, adaptasi berbasis teknologi—seperti pertanian digital, peringatan dini berbasis aplikasi, dan tata kota yang ramah air—bukan lagi opsi, tapi kebutuhan.


Penutup

Cuaca ekstrem awal 2026 adalah pengingat bahwa musim hujan kini tak lagi “biasa”. Dengan memahami penyebabnya, mengenali risikonya, dan melakukan mitigasi sederhana, dampak buruk bisa ditekan.

Karena menghadapi cuaca ekstrem bukan soal melawan alam, tapi belajar hidup lebih siap di tengah perubahan iklim.


Referensi

Komentar